🕺 Daftar Nama Pastor Di Indonesia
SEPUTARLAMPUNGCOM - Simak daftar nama pakaian dan rumah adat untuk 37 Provinsi di Indonesia berikut ini. Apa namanya untuk daerah asalmu, sudah tahu? Pakaian adat umumnya dipakai saat kegiatan adat, pernikahan, atau acara lainnya yang dimaksudkan untuk menunjukkan identitas pemakainya.
130Daftar Nama Bank di Indonesia Terlengkap. Bank adalah badan usaha yang didirikan dengan kewenangan untuk menghimpun dana, menyalurkan dana serta menerima simpanan uang masyarakat dan juga meminjamkan uang. Bank-bank di Indonesia dibagi menjadi beberapa jenis seperti bank sentral, bank pemerintah, bank daerah, bank swasta, bank syariah dan
Mengenal10 Pastor Katolik Terpopuler di Indonesia.
penyusunandaftar nama marga/fam, gelar adat dan gelar bangsawanke an di indonesia yang telah dilakukan mulai dari tahun 20092011 mencakup 24 (dua - puluh empat) provinsi, yaitu : (1) nangroe aceh darussalam, (2) sumatra utara, (3) sumatra barat, (4) riau, (5) kepulauan riau, (6), bengkulu, (7) sumatra selatan, (8) lampung, (9) bangka
Berikutmerupakan daftar uskup diosesan dan uskup tituler di Indonesia (yang menjabat sebagai uskup koajutor, uskup auksilier, uskup emeritus, atau vikaris apostolik) untuk Gereja Katolik Roma, yang pernah berkarya dalam keuskupan-keuskupan di Indonesia (atau sejenisnya). Dalam daftar ini pula, disertakan imam-imam yang hanya pernah menjadi prefek apostolik dan tidak pernah ditahbiskan menjadi
TRIBUNMANADOCO.ID - Berikut daftar nama Presidium Pusat (PP) Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Indonesia Periode 2022-2026 yang dikukuhkan di Hotel Santika Premiere, Slipi, Jakarta Barat, pada Minggu
pQRl. - Australia kekurangan pastor dan pendeta sudah lama menjadi pembahasan di kalangan umat Kristen, hingga mereka harus mendatangkan pemimpin umat dari negara lain, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah Pastor Firminus Wiryono SVD asal Nusa Tenggara Timur, yang saat ini bertugas melayani umat Katolik di Emerald, sebuah kota yang terletak sekitar 832 kilometer dari Brisbane, ibu kota negara bagian Queensland. Pastor Yon, nama panggilannya, ditahbiskan menjadi imam di Maumere, Flores pada tahun 2016, kemudian menjadi pastor paroki di Melbourne. "Saya sudah hampir dua tahun di Queensland dan sekarang melayani empat paroki untuk delapan komunitas di kota-kota kecil di dalam wilayah Emerald," ujar Pastor Yon kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia. Wilayah Emerald hanya memiliki dua pastor, yakni Pastor Yon dan seorang lagi asal Vietnam. Padahal sebelumnya ada lima hingga enam orang pastor yang melayani umat di wilayah ini. Wilayah ini berada di bawah naungan keuskupan Rockhampton, yang sebelumnya memiliki 60 sampai 70 orang, namun Pastor Yon mengatakan pastor yang aktif hanya tinggal 17 orang. Pastor Yon menceritakan pastor Katolik di Australia sebelumnya berketurunan Eropa, seperti Irlandia, Belanda, atau Inggris. Tapi saat ini kebanyakan berasal dari negara di luar benua Eropa, seperti Indonesia, India, Vietnam, dan Nigeria. Ia mengatakan salah satu penyebab berkurangnya minat warga setempat untuk menjadi imam adalah menurunnya jumlah jemaat yang datang ke gereja secara rutin, seperti yang terjadi juga di negara lain. "Kondisi Australia yang semakin sekuler, jadi kita lihat yang aktif ke gereja mereka yang sudah lanjut usia," jelasnya. "Generasi di bawah mereka dulunya pernah dibaptis, tapi mereka tidak menjalankan kehidupan sebagai warga Katolik," jelas Pastor Yon. Tak hanya itu, skandal pelecehan seksual di gereja Katolik, termasuk di Australia, semakin menyulitkan situasi, menurut Pastor Yon. Tapi ia masih optimis dengan masa depan gereja di Australia. "Tergantung bagaimana kita sekarang melakukan penyebaran kembali ajaran Kristen ke anak-anak muda, ke sekolah-sekolah Katolik." Mulai tahun depan ia akan pindah dari Emerald untuk lebih banyak terlibat dalam pembinaan imam di kalangan anak muda Katolik. Perbedaan melayani di Indonesia dan AustraliaPastor Aloysius Lamere MSC, akrab dipanggil Pastor Alo, sudah hampir 11 tahun bertugas melayani umat Katolik di Sydney dan Melbourne. Sudah hampir 30 tahun Pastor Alo yang berasal dari Maluku ini mengabdi menjadi imam, dengan pengalaman bertugas di Karanganyar Jawa Tengah, Jakarta, Kiribati hingga Fiji. Sejak bulan Februari lalu, Pastor Alo melayani umat di Paroki St Thomas di Blackburn, Melbourne. "Karena saya sudah terbiasa melayani dan belajar dari pastor lain di Australia, ketika saya pulang ke Indonesia, cara saya melayani sangat berbeda dengan pastor lain di Indonesia," katanya. Menurut Pastor Alo, banyak umat gereja di Indonesia memandang imam sebagai tokoh yang pendapatnya harus didengar sepenuhnya. "Di negara berkembang, pastor itu orang yang harus ditinggikan, harus dipatuhi, sementara di negara seperti Australia, pastor itu dianggap sebagai salah satu anggota masyarakat saja." "Imam di sini tidak punya posisi yang lebih tinggi dibandingkan yang lain." Dari pengalamannya, kebanyakan umat Katolik di Australia tidak terlalu menuntut pastor untuk bisa lebih dari mereka, meski membutuhkan pastor. Tak hanya itu, ada pula perbedaan dengan materi khotbah. "Di Indonesia kalau kita berkotbah, umat mengharapkan pastornya memberikan jalan, atau petunjuk mengenai kehidupan." "Sementara di sini kita hanya memberikan pendapat kita saja." Gereja dengan jemaat beragam budayaPendeta Ignatius Bagoes Seta asal Surabaya, Jawa Timur, sudah menjadi pendeta Gereja Presbiterian di kawasan Heidelberg, Melbourne sejak tahun 2017. Ia menceritakan keberagaman etnis jemaatnya, ada yang berasal dari Eropa juga Asia, seperti India dan China. "Kami tidak pernah membagi jemaat menjadi kebaktian sendiri, melainkan semua duduk di satu kebaktian." "Dengan demikian kami melihat identitas kami sebagai gereja multi-etnis," katanya kepada ABC Indonesia. Tapi ia mengatakan gereja Protestan, seperti Presbiterian tidak mengalami kekurangan pendeta. "Masih banyak pendeta lokal dan calon pendeta lokal yang menjalani pendidikan, dan dipersiapkan untuk pelayanan." "Fenomena pendeta atau pastor dari negara Asia yang melayani di sinode kami murni karena panggilan dan bukan karena kurangnya tenaga lokal," katanya. Pendeta Bagoes Seta sebelumnya pernah bertugas selama delapan tahun di Indonesia sejak menjadi pendeta di tahun 2002. "Perbedaan utama adalah pendekatan kepada jemaat," ujarnya. "Kita bisa menyampaikan hal yang sama, yakni berita Injil Kristus, tetapi dalam cara penyampaian dan penguraian itu yang perlu berbeda, contoh utama adalah ilustrasi yang diberikan." Ia juga mengatakan banyak pengkhotbah dari luar Australia yang memandang "enteng" masalah ini, misalnya menerjemahkan humor dari negara asal tapi kemudian mendapatkan reaksi yang berbeda. Memenuhi panggilan spiritualFerdinand Haratua yang lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pernah bekerja di bidang pemasaran iklan, sebelum memutuskan melanjutkan pendidikan di Australia. Ia meninggalkan pekerjaannya untuk belajar teologi kemudian di tahun 2018 mendirikan gereja bernama Rock City di kawasan Nunawading, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Melbourne. Gerejanya adalah bagian dari Gereja Baptis Australia dengan jumlah jemaat 30-50 orang yang berlatar belakang etnis berbeda. "Ada orang Australia kulit putih, ada juga dari Indonesia, Vietnam, Malaysia. Mereka multi-etnis, sama seperti masyarakat Australia saat ini," katanya. Ferdinand mengaku merasa terpanggil untuk menjadi pelayan gereja setelah mengamati adanya kebutuhan spiritual dari warga di Australia. "Dari pengalaman saya sendiri ada teman kerja yang bunuh diri, banyak orang yang mengalami kecemasan, depresi dalam hidup mereka, padahal dari sisi materi mereka tidak kekurangan, rumah besar, mobil ada, karier bagus," katanya. Ia mengaku tidak keberatan jika penghasilannya saat ini hanya seperempat dari apa yang diperolehnya ketika bekerja di bidang pemasaran dan periklanan. "Tapi saya merasa puas dengan apa yang saya lakukan sekarang bisa menjadi bagian Tuhan untuk membantu yang lain," kata Ferdinand. "Jadi pendeta juga banyak tantangan, karena hidup itu tidak pernah berhenti," tambahnya. Ia mengatakan berbeda dengan saat masih bekerja kantoran yang bisa pulang ke rumah dan berhenti berpikir soal pekerjaan. Menurutnya hidup jemaat menghadapi berbagai masalah dan saat itulah ia harus memainkan perannya.
2 menit Ada sejumlah pendeta terkenal di Indonesia yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat terutama bagi mereka yang beragama Kristen. Siapa saja nama-nama pendeta tersebut? Inilah daftarnya, Sahabat 99. Bagi Kristiani, pendeta adalah sosok yang dihormati sekaligus dicintai. Pendeta adalah pemuka agama yang memiliki peran penting untuk melayani para jemaat di gereja. Sebagian pendeta juga kerap warawiri di televisi nasional. Alhasil, nama mereka makin dikenal oleh masyarakat terutama bagi mereka yang beragama Kristen Protestan. Lantas, siapa saja pendeta terkenal di Indonesia tersebut? Melansir simak daftarnya di bawah ini! 4 Daftar Pendeta Terkenal di Indonesia 1. Gilbert Lumoindong Sumber Gilbert Lumoindong adalah pendeta terkenal di Indonesia yang wajahnya selalu muncul di televisi. Dia memiliki program acara Kristen pada era 90-an. Di usianya yang sudah memasuki kepala lima, Pendeta Gilbert masih aktif melayani jemaat. Hal ini terlihat dari sejumlah postingannya di Instagram saat dia memimpin ribuan jemaat Kristiani. Gilbert merupakan pendeta yang mendirikan pelayanan jemaat Glow Ministry pada 1998. Termasuk pendeta kaya raya, Pdt. Gilbert pernah diisukan mualaf. Dia juga memiliki akun YouTube yang penghasilannya ditaksir puluhan juta rupiah, menurut situs Gilbert Lumoindong merupakan pendeta yang dekat dengan kalangan pejabat hingga figur publik tanah air. 2. Yesaya Pariadji Sumber Yesaya Pariadji merupakan pendeta terkenal Indonesia sekaligus pendiri Gereja Tiberias Indonesia. Sebelum menjadi pendeta, dia pernah bekerja di Istana Negara pada era Soekarno hingga Soeharto. Namanya juga dikenal karena pengakuan Yesaya Pariadji yang mengalami kejadian spiritual bertemu Yesus Kristus. Ketika itu, mendiang Yesaya Pariadji diminta rajin membaca alkitab, namun ia menolaknya. Pada suatu waktu, dia mengalami kelumpuhan, namun suatu ketika sembuh saat dia rajin membaca Alkitab. 3. Stephen Tong Sumber Stephen Tong adalah pendeta terkenal di tanah air. Dia juga pendiri gereja terbesar Indonesia yaitu Gereja Reformed Injili Indonesia. Pendeta kelahiran China itu menjadi WNI di usia muda. Stephen Tong adalah tokoh teologi terkemuka yang sering mengadakan seminar di Indonesia. Bisa dibilang, pendeta karismatik satu ini sangat dihormati oleh kalangan Kristiani. 4. Niko Njotorahardjo Sumber Pendeta Niko Njotorahardjo merupakan salah satu pendeta populer. Saat ini, Niko Njotorahardjo adalah gembala sidang dari keluarga besar GBI Gatot Soebroto Jakarta. Pdt. Niko masih aktif melayani jemaat baik secara langsung di gereja. Selain itu, dia juga melayani jemaat di media sosial Facebook dengan jumlah pengikut 1,1 juta. Dalam salah satu postingannya, Pendeta Niko membuka layanan doa bagi siapa pun yang membutuhkan dukungan untuk kesembuhan penyakit. Banyak yang mengatakan kalau Pendeta Niko adalah salah satu pendeta terkaya di Indonesia. *** Semoga bermanfaat, Sahabat 99. Simak artikel menarik lainnya di Berita Indonesia. Kunjungi dan jika kamu sedang mencari rumah impian. Temukan segala kemudahan dalam mencari hunian karena kami AdaBuatKamu. Cek sekarang juga, salah satunya Alexandria Premiere Cimanggis!
Menurut hasil sensus kependudukan di Australia, terhadap sekitar 80 ribu warga asal Indonesia di sini, dan 29 persen di antara mereka menganut agama Katolik, jumlah terbesar dibandingkan penganut agama jumlah yang besar tersebut, di kota seperti Sydney dan Melbourne sekarang ini beberapa pastur asal Indonesia didatangkan untuk melayani umat asal Indonesia, namun ada juga beberapa pastur lain yang bekerja di gereja tiga orang pastur asal Indonesia dan Australia yang bekerja di sini yang dihubungi oleh wartawan ABC Sastra Wijaya untuk mendengarkan suka duka pelayanan mereka di Buahendri SVD, MelbournePastur Bonifacius Buahendri berasal dari Nusa Tenggara Timur, dan sudah berada di Australia sejak tahun 1999. Dikenal dengan nama akrab Pater Boni, dia sekarang adalah pastur yang khusus melayani umat Katolik asal Indonesia di Melbourne yang dikenal dengan nama KKI Keluarga Katolik Indonesia."Setelah ditahbiskan sebagai imam di tahun 1998, saya kemudian diutus sebagai misionaris untuk melayani umat di Australia sebagai misi dari ordo saya, SVD." kata Pater Boni."Saya dikirim ke sini karena di Australia mulai kekurangan pastur terutama dari ordo kami, dimana banyak pastur yang sudah lanjut usia."Pater Boni kemudian bekerja di gereja lokal yang melayani umat Katolik Australia di negara bagian New South Wales yaitu di Newcastle and di tahun 2014, Boni diangkat untuk mengurusi khusus umat Katolik asal Indonesia di Melbourne, jabatan yang dikenal dengan sebutan chaplaincy di bawah Keuskupan Agung minggu, Pastor Boni akan memimpin misa dalam bahasa Indonesia yang dilakukan di tempat berbeda, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dengan lokasi gereja di Box Hill, Port Melbourne, Melbourne CBD dan didirikan di tahun 1987 dan tahun ini merayakan ulang tahun ke-30, dan menurut Pater Boni, umat asal Indonesia yang berada di Melbourne semakin bertambah dari tahun ke tahun."Dulu awalnya hanya ada misa sekali sebulan, namun sekarang setiap minggu ada misa, jadi 4 kali dalam sebulan. Juga sekarang ada sembilan wilayah dan 2 kategorial, dimana masing-masing mereka juga kadang mengadakan kegiatan sendiri." kata Pater tiga tahun melayani umat Katolik Indonesia di sini, apa yang dilihat oleh Pastur Boni sebagai tantangan yang harus dilakukan umat di sini? "Umat Katolik Indonesia di sini sebenarnya suka berkumpul dan mengadakan pertemuan, asal saja pasturnya juga ikut hadir. Mereka mau melayani sesama . Dari tahun ke tahun saya melihat dalam berbagai misa semakin banyak umat yang hadir." katanya. Namun Pater Boni mengharapkan bahwa kemudian umat Katolik Indonesia di Melbourne ini tidak sekedar berkumpul sesama mereka saja."Saya melihat masih sedikit yang kemudian terlibat dalam kegiatan sosial yang ada di kalangan gereja di lembaga sosial seperti Vinnies atau yang lain."Oleh karena itu, Pater Boni mendesak agar umat di sini agar lebih banyak mengikuti kegiatan di gereja lokal."Kehadiran KKI sebenarnya hanyalah untuk membantu umat untuk lebih terintegrasi ke dalam kehidupan masyarakat Katolik di Australia. Mereka harus lebih aktif di gereja lokal, harus mengenal siapa pastur mereka."John O'Doherty OMI, Adelaide Romo John O'Doherty OMI Foto Istimewa Pastur John O'Doherty adalah rohaniwan yang awalnya berasal dari Australia dan di tahun 1982 ditugaskan oleh Ordonya, OMI untuk melayani umat Katolik di kemudian selama 28 tahun bertugas di berbagai daerah di Pulau Jawa antara lain di Cilacap, Semarang, Yogyakarta dan John demikian dia biasanya dipanggil kemudian kembali ke Australia di tahun 2011 karena kondisi kesehatan yang memerlukan perawatan yang lebih baik di Australia, dan setelah pernah bertugas di Perth Australia Barat sekarang menjadi pastur pembantu di Gereja St Pius X di Dernandcourt, Adelaide Australia Selatan.Selain melayani gereja lokal, sebulan sekali, Romo John yang fasih berbahasa Indonesia melayani umat Katolik Indonesia yang tergabung di dalam Keluarga Katolik Indonesia Adelaide KKIA."Setiap bulan, di gereja saya ini, saya memimpin misa yang dihadiri oleh sekitar 50-60 orang warga asal Indonesia." kata Romo sebelumnya, umat KKIA ini yang sudah bertemu teratur sebuilan sekali dilayani oleh pastor lokal dengan misa dalam bahasa Inggris. "Ketika saya kembali ke Australia untuk menjalani perawatan kesehatan, saya diberitahu ada komunitas Indonesia dan setelah bertemu beberapa kali saya menawarkan diri untuk melayani mereka." kata Romo John yang sekarang sudah berusia 84 tahun. Iklan Menurut Romo John, berkumpulnya umat Katolik asal Indonesia sekali sebulan merupakan hal yang ideal."Menurut saya dan juga beberapa orang lain, umat Katolik Indonesia tidak seharusnya membentuk sebuah paroki sendiri. Namun pertemuan bulanan bisa menjadi tempat untuk berkumpul bagi mereka, namun setelah itu di minggu-minggu lainnya, mereka ikut misa lokal." kata Romo apa yang dilihat oleh Romo John dalam enam tahun terakhir sejak dia kembali ke Australia adalah semakin banyaknya sumbangan yang diberikan oleh umat Katolik Indonesia ke gereja lokal."Di Adelaide, dalam misa KKIA ada kelompok paduan suara yang terdiri dari anak-anak muda yang juga tampil di gereja lokal di minggu-minggu lainnya. Ini bagus sekali, karena sekarang ini semakin sedikit yang terlibat dalam kegiatan gereja misalnya di bidang musik."Menurutnya, kebiasaan tampil menyanyi di gereja sebagai bagian dari misa/kebaktian sudah dilakukan anggota paduan suara sejak mereka berada di Indonesia."Ketika ada misa guna memperingati masa 50 tahun saya sebagai pastur di gereja lokal saya meminta paduan suara dari umat Indonesia untuk bernyanyi, karena saya ingin menunjukkan apa yang bisa dan sudah mereka lakukan untuk menyemarakkan penyelenggaraan misa di Australia," demikian Romo John O'DohertryMartin Situmorang OFM Cap, Sydney Pastur Martin Situmorang OFM Cap Foto Istimewa Pastur Martin Situmorang berasal dari Sibolga di Sumatera Utara, dan setelah ditahbiskan menjadi pastur di tahun 2009 kemudian ditugaskan oleh ordonya untuk bekerja di Australia, Ordo di Australia di tahun 2011, sekarang dia bekerja di Paroki Good Shepherds Gembala Baik di Plumpton, Sydney, melayani warga Katolik di daerah tersebut dan juga membantu pelayanan di wilayah Keuskupan ditahbiskan menjadi iman, Pastur Martin pernah bertugas di beberapa wilayah di Sumatera Utara diantaranya di Pulau Nias, Sibolga dan di Pastur Situmorang melihat perbedaan antara umat Katolik di Indonesia dan umat Katolik di Australia dari sisi jumlah yang hadir ke gereja setiap minggunya?"Dari sisi jumlah, kita bisa melihat bahwa semakin banyak umat di Indonesia yang datang ke gereja setiap minggunya, sedangkan di Australia yang terjadi justru kebalikannya, jumlah umat yang datang tidak sebanyak dulu lagi." katanya."Umat Katolik di Australia rata-rata sudah memiliki pendidikan, dan berbeda dengan umat di Indonesia, dan karenanya mereka sangat aktif mencari imannya. Mereka tidak sekedar iman buta, tetapi iman yang menuntut pengertian." "Jadi ini bukan lagi seperti di Indonesia, dimana semua apa yang dikatakan pastur adalah vitamin, sementara di sini mereka mengunyah-ngunyah dulu apa yang dikatakan oleh pastur." kata Pastur Martin lagi. Oleh karena itu menurutnya ketika pastor berkotbah dalam misa, maka hal-hal yang disampaikan harus memiliki aspek rasionalitas yang lebih masa lalu, Asia merupakan ladang bagi misi misionaris Kristen dan Katolik yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat, namun dalam beberapa dekade terakhir, yang terjadi adalah keadaan sebaliknya dimana lebih banyak pastur yang berasal dari Asia yang bekerja dan ditempatkan di negara seperti Australia dan umat Kristen di Australia melihat dan menerima para pastor tersebut?"Seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus, masa depan gereja memang di Asia dimana pertumbuhan umatnya sangat pesat.""Dulu kita menerima misionaris dari Barat sekarang begitu banyak bahkan ribuan pastor dari Indonesia dan Asia dikirim ke luar negeri," kesannya, menurut Pastur Martin Situmorang, orang Asia dulunya lebih mudah menerima mereka "yang berkulit putih, dan bermata biru" dari pada kebalikannya."Di Australia umat di sini tidak memiliki pandangan yang sama seperti kita di Indonesia dulu melihat pastur dari Barat. Di sini umat tidak memiliki praduga sama sekali, namun mereka dengan pikiran terbuka ingin melihat bagaimana kualitas dari pastor yang datang, tidak melihat warna kilit mereka."Menurutnya, setelah umat mengenal pastor yang melayani mereka, maka kemudian umat akan menerima dan tidak memberikan perbedaan apakah pastur itu berkulit putih atau memiliki warna kulit lain."Mungkin di kalangan pastur Asia yang datang ke sini pada awalnya ada perasaan inferior rendah diri, namun kalau kita bisa membuktikan kita akan diterima." kata Pastur Martin Situmorang. Lihat Artikelnya di Australia Plus
daftar nama pastor di indonesia