🦓 Unsur Intrinsik Dalam Hikayat Indera Bangsawan
3 Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik dalm Hikayat. Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud ialah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti : tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latae
Hikayatmulai berkembang pada masa Melayu klasik, sehingga banyak kata yang digunakan dalam hikayat mengandung bahasa Melayu klasik yang terkadang susah untuk dimengerti. Contents hide. 1 Ciri-Ciri Hikayat. 2 Unsur-Unsur Hikayat. 3 Jenis-Jenis Hikayat. 3.1 Jenis Hikayat berdasarkan Isinya.
HikayatIndera Bangsawan *Ciri-ciri Hikayat 1. Istana Sentris "Tersebutlah perkataan seorang raja" "Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada" (Alenia 1) 2. Fantastis "ada di padang itu dan bertemu seorang raksasa" (Alenia 5) 3. Alkais/Klise "mencari buluh perindu" (Alenia 2) buluh perindu: suling "Hatta berapa lamanya" (Alenia 9)
INDERA BANGSAWAN: PATUH, PANTANG MENYERAH, RINGAN TANGAN, PEMBERANI - MUALIN SUFIAN: RINGAN TANGAN - RAKSASA GARUDA: JAHAT - PUTRI RATNA SARI: RINGAN TANGAN - PUTRI KEMALA SARI: PATUH - RAKSASA PEREMPUAN: RINGAN TANGAN - RAKSASA BURAKSA: JAHAT - RAJA KABIR: GAMPANG MENYERAH 4. LATAR TEMPAT: NEGERI KOBAT SYARIAL, HUTAN, TAMAN, DAN GUA 5.
Unsurintrinsik Hikayat Patani untuk tokoh terdiri dari Paya Tu Naqpa, Syaikh Sa'id, Hulubalang, dan Encik Tani beserta istrinya. Penokohoan dari tokoh-tokoh dalam unsur intrinsik Hikayata Patani antara lain meliputi penjelasan berikut. Paya Tu Naqpa: suka berburu, ingkar janji, hanya patuh saat terdesak, raja yang baik
30pTY4U. Kamu suka membaca cerita hikayat melayu? Sudah pernah membaca cerita hikayat Indera Bangsawan yang memiliki kisah menarik? Jika belum, langsung saja baca artikel ini! Hikayat adalah karya sastra lama Melayu yang bersifat rekaan, keagamaan, atau historis. Ada banyak cerita hikayat yang memiliki kisah menarik, salah satunya adalah Indera hikayat ini mengisahkan tentang seorang raja yang memiliki dua putra mahkota. Karena keduanya sangat baik dan bijak, sang raja bingung hendak menyerahkan tahtanya pada dengan kelanjutan kisahnya? Tak perlu berlama-lama lagi, langsung saja simak cerita hikayat Indera Bangsawan di bawah ini. Tak hanya kisahnya saja, unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya juga telah kami Hikayat Indera Bangsawan Alkisah, pada zaman dahulu, ada sebuah Kerajaan Kobat Syahril yang megah dan mewah. Raja yang memimpin kerajaan itu bernama Raja Indra Bungsu. Ia adalah seorang raja yang sangat bijaksana dan adil dalam bertindak. Rakyat di Negeri Kobat Syahril hidup dengan aman, bahagia, dan sentosa, karena sang raja selalu memperhatikan mereka. Sang raja memiliki istri yang juga baik hati dan parasnya sangatlah cantik. Kecantikannya sangat termahsyur hingga ke mancanegara. Wanita itu bernama Putri Siti Kendi. Tak hanya baik hati, ia juga kerap mengatur kegiatan kemasyarakatan. Maka dari itu, ia sangat dengan rakyat. Para rakyat pun sangat menyukainya. Meski telah hidup makmur dan sejahtera, kebahagiaan Raja Indra Bungsu dan istrinya belum lengkap. Pasalnya, mereka tak kunjung memiliki momongan. “Wahai Adinda, sudah lama kita berumah tangga, Kanda pun merasa bahagia. Namun, ada satu hal yang membuat Kanda merasa cemas. Kanda sangat ingin memiliki putra mahkota sebagai ahli waris kerajaan ini,” ucap Raja Indra Bungsu. “Begitu pun dengan adinda, Kanda. Sebenarnya, Adinda sangat ingin memiliki anak. Sebenarnya Dinda juga telah meminta tolong pada tabib, tapi Dinda tak kunjung mengandung,” Setelah berpikir cukup lama, sang raja akhirnya memutuskan untuk bertanya pada penasihat kerajaan yang terkenal pandai dalam ilmu agama. Penasihat kerajaan itu meminta raja dan permaisuri memperbanyak doa dan sedekah pada fakir miskin. Selama beberapa waktu, raja, permaisuri, dan seluruh rakyat Negeri Kobat Syahril berdoa. Mereka memohon petunjuk pada Tuhan yang Maha Esa agar permaisuri segera memiliki momongan. Baca juga Kisah Hikayat Si Miskin dan Ulasan Lengkapnya yang Mengandung Nilai-Nilai Bijak Kehidupan Permaisuri Mengandung Putra Mahkota Pada akhirnya, sang permaisuri berhasil hamil. Betapa bahagianya Raja Indra Bungsu dan seluruh rakyat Kobat Syahril. Mereka tak berhenti mendoakan agar kandungan Permaisuri Siti Kendi senantiasa sehat. Setelah genap sembilan bulan, Siti Kendi ternyata melahirkan dua orang anak kembar laki-laki yang sangat tampan. Raja Indra bungsu menamai mereka Pangeran Syah Peri dan Pangeran Indera Bangsawan. Meski kembar, Pangeran Syah Peri lahir terlebih dahulu. Sehingga, ia merupakan kakak dari Pangeran Indera Bangsawan. Mereka tumbuh dengan sangat baik. Sang raja pun memerintahkan guru terbaik untuk mengajari mereka ilmu perang, ilmu pemerintahan, ilmu bermain senjata, dan beragam pendidikan lainnya. Karena keduanya sama-sama hebat dan tangguh, sang raja pun bingung menentukan siapa yang kelak menjadi penggantinya. Setelah berpikir lama, ia akhirnya punya solusi atas keresahan hatinya. Pada suatu malam, Raja Indra Bungsu bercerita pada kedua anak tampannya. “Anakku, semalam ayahanda bermimpi. Dalam mimpi itu, ayah sedang berkuda. Tiba-tiba, ada seorang pemuda yang tampan. Ia membawa buluh perindu. Bunyi alat tiup dari bambu itu membuat hati ayah terasa tentram. Ayah sangat ingin memiliki buluh perindu itu. Tapi, ia tak memberikannya pada ayah. Ia malah berkata kalau siapa pun yang bisa menemukan buluh perindu ini, maka ialah yang akan menjadi raja,” ucap Indra Bungsu. “Oleh karena itu, bisakah kalian mencarikan buluh perindu untuk ayah? Yang berhasil menemukannya, akan ayah pilih sebagai pengganti ayah,” lanjut sang raja. Setelah mendengar cerita sang ayah, kedua putra mahkota itu saling berpandangan. Mereka saling mendekat dan terdengar membicarakan sesuatu. Setelah berunding secara singkat, Pangeran Indera Bangsawan berkata, “Baiklah Ayah, kami berdua kan mencoba mencari buluh perindu itu.” Perjalanan Mencari Buluh Perindu Setelah meminta doa restu kedua orang tua, pergila kedua putra mahkota mencari buluh perindu. Bersama-sama mereka melewati hutan dan lembah. Apa pun yang terjadi, mereka bisa melaluinya bersama-sama. Hingga suatu hari, mereka melewati sebuah gunung yang sangat terjal. Banyak bebatuan besar yang sangat sulit untuk mereka lewati. Namun, mereka tak pernah menyerah. Mereka selalu berupaya agar dapat melewati segala rintangan demi mendapatkan buluh perindu. Sesampainya di sebuah puncak gunung, tiba-tiba datang angin topan yang sangat besar. Mereka saling berpegangan agar tak terpisah. Musibah terus-terusan datang. Kali ini, kabut yang sangat tebal menghalangi pandangan kedua pangeran. Mereka saling berpegangan tangan. Tapi, pandangan mereka semakin kabur. Ditambah lagi, angin topan yang berhembus semakin kencang. Malangnya, hal itu membuat mereka terpisah. Pangeran Syah Peri terhempas di dekat pohon hingga ia tak sadarkan diri. Sedangkan Pangeran Indera Bangsawan terdampar di dekat sebuah gua. Pangeran Syah Peri Setelah sadar, Pangeran Syah Peri kebingungan. Ia melihat semua yang ada di sekitarnya telah porak poranda. Ia bergegas bangun dan mencari adiknya. Tapi, ia tak kunjung menemukannya. Ia lalu melanjutkan perjalanan ke arah utara untuk menemukan adiknya dan buluh perindu. Setelah sekian lama berjalan, tibalah ia di suatu negeri yang sangat luas. Negeri itu sangat indah, bermacam-macam pohon dan bunga tumbuh di sana. Ia lalu melihat sebuah rumah dan memutuskan untuk mengunjunginya. Namun, rumah itu tampak sepi. Pangeran Syah Peri lalu mengintip ke setiap sudut jendela itu. Lalu, ia melihat seorang perempuan yang tampak terikat tali. Ia lalu mendobrak pintu rumah dan menyelamatkan perempuan itu. Dengan tubuhnya yang terkulai lemas, wanita itu berterima kasih pada Syah Peri. “Terima kasih, Tuan, karena telah menyelamatkanku.” ucap gadis itu. “Siapa yang tega mengikatmu dengan tali? Dan, siapakah namamu?” tanya Pangeran Syah Peri. Wanita itu bernama Dewi Ratna Sari. Ia berasal dari Kerajaan Asikin. Negeri tersebut telah hancur karena ulah raksasa. Sosok berbadan besar itulah yang mengikatnya dengan tali. Lalu, Pangerah Syah Peri berkata bila ia akan membunuh raksasa itu. Benar saja, ketika sang raksasa datag, Pangeran Syah Peri langsung menghadangnya. Dengan senjata panah, pangeran itu berhasil membunuh raksasa. Dewi Ratna Sari sangat berterima kasih pada pangeran. Tak lama kemudian, mereka saling suka dan memutuskan untuk menikah. Putri Dewi Ratna Sari lalu mengikut pangeran mencari buluh perindu dan adiknya. Baca juga Legenda Batu Belah Batu Bertangkup dari Aceh yang Penuh Pesan Moral Beserta Ulasan Menariknya Pangeran Indera Bangsawan Di sisi lain, Pangeran Indera Bangsawan juga selamat. Setelah badai topan itu, ia terdampar di balik batu. Ia juga mencari kakaknya, tapi tak kunjung bisa bertemu. Akhirnya, ia berjalan seorang diri ke arah barat. Ia lalu melihat sebuah rumah kecil dan menghampirinya. Sesampainya di depan pintu, ia bertemu dengan seorang nenek. “Apa tujuanmu datang kemari, Anak muda? Siapa namamu?” tanya nenek itu. “Namaku Indera Bangsawan, Nek. Aku bisa sampai di sini karena tersesat saat mencari adik dan buluh perindu,” ungkap pangeran itu. “Baiklah, Cucuku. Kamu sebenarnya telah tiba di Negeri Lorong Antah. Lantas, kenapa kamu mencari buluh perindu?” tanya nenek itu. Lalu, Pangeran Indera Bangsawan menceritakan tujuannya mencari buluh perindu. Ia juga mengatakan bahwa dalam perjalanan ada badai yang memisahkan dirinya dengan sang kakak. Mendengar cerita itu, sang nenek merasa iba. “Sebenarnya, aku adalah satu-satunya orang yang memiliki buluh perindu, Nak! Namun, aku tak bisa menyerahkannya begitu saja padamu,” ucap nenek itu. “Apakah ada syarat yang harus aku penuhi dulu, Nek? Aku sangat ingin membawa pulang buluh perindu itu,” jawab sang pangeran tampan. “Aku akan menyerahkannya bila kau bisa mengalahkan raksasa yang ada di negeri Antah Berantah, Nak. Jika berhasil menyelamatkan rakyat di sana, aku akan memberikan buluh perindu ini,” jawab sang nenek. Sang nenek menceritakan bahwa negeri itu dipimpin oleh Raja Kabir. Karena raksasa terus mengganggu, Raja Kabir sampai membuat sayembara. Siapa pun yang berhasil mengalahkan raksasa, maka ia akan menjadi suami putrinya, Dewi Kemala Sari. Menyelamatkan Negeri Antah Berantah Pangeran Indera Bangsawan menyetujui perintah sang nenek. Saat hendak berangkat ke Antah Berantah, sang nenek membekalinya seekor kuda yang sangat kuat. Ia lalu berpesan, “Nak, kuda ini akan membantumu dalam perjalanan. Untuk mengalahkan raksasa, gunakanlah panah milikmu.” “Baik, Nek. Doakan aku agar bisa mengalahkan raksasa itu,” jawab pangeran tampan. Kemudian, Pangeran Indera Bangsawan memulai perjalanannya menuju Negeri Antah Berantah sendirian. Sesampainya di negeri itu, para penjaga menghadangnya. Ia lalu mengatakan bahwa dirinya hendak membantu melawan sang raksasa. Tak berselang lama, datanglah raksasa menyerang Antah Berantah. Para pasukan Kerajaan Antah Berantah dibantu oleh pasukan dari Anak Raja Sembilan pun beraksi. Namun, raksasa itu sangat kuat. Beberapa pengawal mulai jatuh tersungkur. Dengan ilmu perang yang ia punya, Indera Bangsawan langsung menyerang raksasa dengan panah-panahnya. Ia sangat gagah dan tangguh. Setelah berulang kali membusurkan panah, akhirnya raksasa itu berhasil ia bunuh. Para pasukan perang pun bersorak sorai. Mereka sangat berbahagia. Mengetahui hal tersebut, Raja Kabir pun langsung menemui Pangeran Indera Bangsawan. “Siapakah gerangan dirimu, wahai Pemuda? Terampil sekali kau dalam berperang. Aku berterimakasih karena kau telah menyelamatkan negeriku ini,” ucap sang raja. “Nama hamba adalah Indera Bangsawan, Tuan. Hamba berasal dari Negeri Kobat Syaril,” jawab pangeran. “Kamu sangat pandai dalam berperang. Lantas, apa yang membuatmu jauh-jauh datang kemari, Nak? tanya sang raja. “Ceritanya sangat panjang, Tuan. Hamba akan menceritakannya di lain kesempatan. Namun, hamba kemari memang untuk menyelamatkan Negeri Antah Berantah,” jawab pangeran. Sesuai sayembara, Raja Kabir pun lalu menikahkan Dewi Kemala Sari dengan Indera Bangsawan. Pesta pernikahan itu dilangsungkan secara mewah selama tujuh hari tujuh malam. Kembali Ke Kobat Sumber Badan Bahasa Kemdikbud Pada suatu malam, Pangeran Indera Bangsawan mengatakan pada sang istri kalau ia hendak menemui nenek-nenek di Negeri Lorong Antah. Ia ingin mengambil buluh perindu dan hendak menyerahkannya pada sang ayah. “Adinda, kanda merindukan kedua orang tua dan kakak kanda. Esok, kanda berencana ke rumah seorang nenek untuk mengambil buluh perindu. Lalu, kanda kan kembali ke Negeri Kobat Syahril. Maukah Adinda ikut kanda?” ucap pangeran. “Tentu saja, Kanda. Adinda siap mengabdi pada kakanda,” ucap Dewi Kemala Sari. Setelah itu, mereka lalu memohon izin pada Raja Kabir. Raja yang bijak itu memahami perasaan menantunya. Ia lalu mengizinkan Pangeran Indera Bangsawan dan putrinya kembali ke Negeri Korbat Syahril. Saat hendak kembali ke negeri asal, Pangeran Indera Bangsawan dan istrinya tak sendiri. Mereka dikawal oleh banyak pasukan dari Negeri Antah Berantah. Sebelum menuju ke Kobat Syahril, mereka mendatangi Lorong Antah untuk mengambil buluh perindu. Nenek yang memiliki buluh itu pun dengan suka rela menyerahkannya pada Pangeran Indera Bangsawan. “Kau telah memenuhi janjimu, Nak. Sekarang buluh perindu ini akan menjadi milikmu,” ucap sang nenek. Setelah mengambil buluh perindu, Indera Bangsawan, istrinya, dan para pasukan pun melanjutkan perjalanan. Setibanya di sana, para rakyat langsung menyambut pangeran dengan suka cita. Begitu pula dengan Raja Indra Bungsu dan Permasuiri Siti Kendi. Mereka sangat bahagia karena anaknya telah kembali. Pada saat yang bersamaan, Pangeran Syah Peri dan istrinya juga kembali ke istana. Saudara kembar ini sontak langsung berpelukan. Mereka tak menyangka bisa bertemu lagi dengan istri masing-masing. Pada saat itu pula, Indera Bangsawan menyerahkan buluh perindu. Maka, raja mengumumkan bahwa Indera Bangsawan adalah penerusnya. Mengetahui adiknya berhasil mendapatkan buluh perindu, Pangeran Syah Peri merasa bangga. Baca juga Kisah Legenda Pulau Kemaro di Palembang tentang Cinta dan Ketelitian Beserta Ulasan Menariknya Unsur Intrinsik Cerita Hikayat Indera Bangsawan Cerita hikayat Indera Bangsawan di atas sangat seru, kan? Nah, setelah membaca ceritanya, kini saatnya kamu mengulik informasi tentang kisah ini. Berikut ulasannya; 1. Tema Tema atau isi pokok cerita hikayat Indera Bangsawan adalah tentang perjuangan meraih keinginan. Para tokoh utama berusaha mencari buluh perindu. Dalam perjalanan mencarinya, banyak sekali cobaan yang harus mereka lalui. 2. Tokoh dan Perwatakan Sumber Badan Bahasa Kemdikbud Tokoh utama dalam cerita hikayat Indera Bangsawan adalah Pangeran Indera Bangsawan dan Pangeran Syah Peri. Keduanya memiliki sifat yang sama. Sama-sama patuh kepada orang tua, tangguh, dan pemberani. Tokoh lain yang turut mewarnai cerita hikayat Indera Bangsawan adalah Raja Indra Bungsu, Permaisuri Siti Kendi, Raja Kabir, Dewi Ratna Sari, Dewi Kemala Sari, dan nenek. Mereka semua merupakan tokoh protagonis. Sementara tokoh antagonis dalam kisah ini adalah raksasa. 3. Latar Cerita hikayat Indera Bangsawan menggunakan beberapa latar tempat. Sebut saja Kerajaan Kobat Syahril, hutan, lembah, gunung, Negeri Lorong Antah, Negeri Antah Berantah, dan Negeri Asikin. 4. Alur Cerita Hikayat Indera Bangsawan Cerita hikayat ini memiliki alur maju. Kisah berawal dari rasa bingung Raja Kabir menentukan penerusnya. Ia lalu meminta kedua putra mahkota untuk mencari buluh perindu. Pangeran Syah Peri dan adiknya terpisah saat melakukan perjalanan mencari buluh perindu. Pada akhirnya, Pangeran Indera Bangsawan yang dapat menemukan buluh perindu. 5. Pesan Moral Kira-kira, apakah amanat yang terkandung dalam cerita hikayat Indera Bangsawan? Nah, dari kisah ini, pelajaran yang bisa kamu petik adalah jangan mudah menyerah dalam meraih keinginanmu. Pangeran Indera Bangsawan terus berjuang melawan segala rintangan demi mendapatkan buluh perindu yang kelak akan ia serahkan pada sang ayah. Kegigihannya itulah yang membuatnya berhasil menemukan buluh perindu. Tak hanya unsur intrinsiknya, jangan lupakan juga unsur ekstrinsik yang membangun cerita hikayat Indera Bangsawan ini. Unsur ekstrinsik biasanya berhubungan dengan latar belakang masyarakat, penulis, dan nilai-nilai yang ada dalam kisahnya. Baca juga Legenda Asal Mula Desa Trunyan dan Ulasan Menariknya, Alasan di Balik Cara Pemakaman yang Unik Fakta Menarik Penasaran dengan fakta menarik dari cerita hikayat Indera Bangsawan? Berikut ulasan singkatnya; 1. Ada Film yang Mengadaptasi Kisah Ini Sumber Wikimedia Commons Pada tahun 1961, cerita hikayat Indera Bangsawan diangkat menjadi sebuah film berjudul sama. Film asal Malaysia tersebut disutradarai oleh Dhires Ghosh dan diperankan oleh beberapa artis melayu, salah satunya adalah Jins Shamsudin. Baca juga Kisah Asal Mula Nagari Minangkabau dan Ulasannya, Bukti Kalau Kekerasaan Bukanlah Segalanya Sudah Puas dengan Cerita Hikayat Indera Bangsawan di Atas? Demikianlah artikel yang membahas tentang cerita hikayat Indera Bangsawan beserta unsur intrinsik dan fakta menariknya. Kamu sudah cukup puas dengan kisahnya, bukan? Bila penasaran dengan kisah lainnya, langsung saja baca kanal Ruang Pena pada situs PosKata. Ada cerita hikayat Bayan Budiman, Legenda Si Tanduk Panjang, Kisah Dara Muning, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
100% found this document useful 3 votes13K views5 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 3 votes13K views5 pagesUnsur Intrinsik Hikayat Indera Bangsawan Unsur Intrinsik Hikayat Indera Bangsawan Pada suatu hari Raja Indera Bungsu dari kerajaan Negeri Kobat Syahrial menginginkan anak. Beliau lantas mengutus orang - orang yang diperintah oleh patihnya untuk membaca do'a Qunut dan bersedekah kepada fakir miskin. Tak lama kemudian istrinya, Puteri Sitti Kendi hamil dan melahirkan putra kembar laki- laki. Putra yang sulung lahir dengan sebuah anak panah dan diberi nama Syah Peri. Putra yang bungsu lahir dengan sebilah pedang dan diberi nama Indera Bangsawan. Sejak kecil kedua anak baginda itu dididik dengan baik. Mereka tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik. Saat usia mereka telah mencapai tujuh tahun, Raja Indera Bungsu memerintahkan kedua putranya untuk belajar mengaji kepada Mualim Sufian. Setelah beberapa lama, mereka belajar pula ilmu kesaktian dari guru mereka. Sang ayah mulai bimbang untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya memerintah kerajaan. Kembimbangan itu karena kedua putranya sama- sama pandai dan berakhlak baik. Pada suatu malam, sang Baginda Raja bermimpi tentang buluh perindu. Sang Raja sangat terpesona dengan buluh tersebut yang memiliki suara sangat merdu. Keesokan harinya, Baginda Raja menceritakan mimpinya tersebut pada kedua anaknya. Ia pun membuat sebuah sayembara untuk kedua putranya, barangsiapa yang bisa mendapat buluh perindu, dialah yang akan menggantikan dirinya untuk menjadi raja. Kedua putranya itu kemudian memohon kepada Baginda Raja untuk memulai pengembaraan mencari buluh perindu yang diinginkan ayahnya. Dalam perjalanan mereka selalu bersama hingga suatu saat karena angin topan, hujan lebat, dan awan gelap gulita mereka jadi terpisah. Syah Peri berjalan dan terus berjalan hingga ia menemukan suatu taman dan sebuah mahligai. Dalam mahligai itu, Syah Peri menemukan sebuah gendang. Dipukulinya gendang tersebut keras-keras. Pada saat dia sedang memukul gendang itu didengarnya suara lain yang berasal dari dalam gendang. Syah Peri lalu merobek gendang tersebut dengan pisaunya. Betapa kagetnya Syah Peri karena dia mendapati seorang Putri dan dayang-dayang nya sedang bersembunyi di dalam gendang. Setelah dikeluarkan dari dalam gendang, Sang Putri bercerita bahwa dia disembunyikan di dalam gendang oleh ayahnya untuk menghindari serangan raksasa Garuda yang telah meluluh-lantahkan kerajaan mereka. Tak lama kemudian raksasa Garuda datang hendak membunuh sang Putri. Syah Peri segera menyelamatkan Sang Putri dan bertarung melawan raksasa Garuda. Raksasa Garuda itupun dapat dikalahkannya. Syah Peri selanjutnya menikahi Putri Ratna Sari dengan disaksikan oleh dayang-dayang Sang Putri. Di lain tempat, Indera Bangsawan menemukan suatu padang yang tidak cukup luas. Di dalam padang itu terdapat sebuah gua yang dihuni oleh raksasa perempuan. Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa perempuan itu. Dijadikannya raksasa perempuan itu sebagai neneknya. Selama mereka bersama, raksasa tersebut banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan Buraksa. Raksasa tersebut bercerita bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri antah berantah yang diperintah oleh Raja Kabir, sebuah kerajaan yang akan dihancurkan oleh Buraksa. Raksasa meminta Indera Bangsawan untuk membantu kerajaan tersebut. Raja Kabir akan menyerahkan putrinya, Putri Kemala Sari kepada Buraksa sebagai upeti agar kerajaan itu tidak di hancurkan oleh Buraksa. Setelah Indera Bangsawan berhasil masuk di wilayah kerajaan dengan menyamar sebagai budak berambut keriting. “Barangs iapa yang bisa membunuh Buraksa dan membawa mata dan hidungnya yang berjumlah tujuh, maka dia akan dinikahkan denga Puteri Kemala Sari” kata Raja Kabir. Indera Bangsawan segera bergegas untuk mengejar dan mencari Buraksa tersebut. Dengan kepandainnya, Indera Bangsawan berhasil menemukan Buraksa lebih dulu dari yang lain, dan akhirnya ia dapat mengalahkan Buraksa. Indera Bangsawan juga memotong mata dan hidung Buraksa yang berjumlah tujuh itu untuk dipersembahkan kepada Raja Kabir. Sampai di istana Indera Bangsawan segera menghadap Raja Kabir. Raja Kabir bahagia karena ada orang yang dapat menyelamatkan putrinya. Pada saat itu juga Putri Kemla Sari segera dinikahkan dengan Indera Bangsawan. Indera Bangsawan sudah mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, maka ia mengajak istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial untuk menghadap ayahnya. Ternyata Indera Bangsawan mendadak jatuh sakit. Di tempat berbeda Syah Peri beberapa hari tidak dapat tidur dengan nyenyak dan selalu memimpikan adiknya, Indera Bangsawan. Dalam mimpinya, Indera Bangsawan sedang sakit keras dan membutuhkan pertolongannya. Maka berangkatlah ia mencari Indera Bangsawan. Setelah berhari-hari mencari, sampailah Syah Peri di kerajaan antah-berantah itu. Ia menemukan Indera Bangsawan sedang tergeletak sakit tak berdaya dengan ditemani istrinya. Syah Peri lalu berusaha untuk menyembuhkan Indera Bangsawan. Selang beberapa hari, Indera Bangsawan berangsur-angsur sembuh. Syah Peri dan istrinya lantas mengajak Indera Bangsawan dan istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial. Baginda raja Indera Bungsu sangat bahagia melihat kepulangan kedua putranya yang didampingi juga oleh istrinya. Indera Bangsawan langsung menyerahkan buluh perindu kepada sang ayah. Sang ayah bertambah bahagia dan langsung mengangkat Indera Bangsawan menjadi raja untuk menggantikannya menjadi raja Kobat Syahrial. Untuk membalas kebaikan hati kakaknya, Indera Bangsawan memberi Syah Peri sebuah batu hikmat. Batu hikmat tersebut dapat dimanfaatkan Syah Peri untuk dijadikan sebuah kerajaan lengkap dengan abdi kerajaan, rakyat, dan perlengkapan kerajaan. Akhirnya, kedua kerajaan itu berkembang bersama saling bahu-membahu untuk menciptakan kerukunan, kemakmuran, dan perdamaian. Unsur Intrinsik 1. Tema Siapa menanam akan memeteik hasilnya. 2. Tokoh a. Protagonis Raja Indera Bungsu, Putri Sitti Kendi, Syah Peri, Indera Bangsawan, Mualin Sufian, Raksasa Perempuan, Putri Ratna Sari, Putri Kemala Sari. b. Antagonis Raksasa Garuda. c. Tritagonis Raja Kabir. 3. Penokohan a. Raja Indera Bungsu Sabar dalam menghadapi ujian selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra. Dermawan, suka tolong menolong, dan perhatian terhadap rakyatnya beliau sering membagikan sedekah kepada fakir miskin. Penyayang dan perhatian terhadap kedua putranya kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik. b. Putri Sitti Kendi Sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra. Sayang dan perhatian terhadap kedua putranya kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh denngan akhlak dan perilaku yang baik. c. Syah Peri Patuh kepada kedua orang tuanya melaksanakan perintah Baginda Raja Indera Bungsu untuk mencari buluh perindu. Perhatian dan pantang menyerah selalu peduli dengan keadaan saudara berhasil mengalahkan raksasa Garuda untuk menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang- menolong menyelamatkan Putri Ratna Sari dari serangan raksasa Garuda dan berusaha menyembuhkan Indera Bangsawan. d. Indera Bangsawan Patuh kepada kedua orang tua melaksanakan perintah Baginda Raja untuk mencari buluh perindu. Pantang menyerah berhasil mendapatkan buluh perindu dan berusaha mengejar melawan raksasa Buraksa. Pemberani dan suka menolong berhasil mengalahkan raksasa Buraksa untuk menyelamatkan Putri Kemala Sari, dan rakyat Raja Kabir. Menghargai usaha orang lain memberikan Batu Khitmat kepada Syah Peri untuk membalas kebaikan Syah Peri yang telah menyelamatkan nyawanya e. Mualin Sufian Suka t menolong mau mengajarkan berbagai ilmu yang ia miliki kepada kedua putra Baginda Raja Indera Bungsu.
On 07 Jun 2021 Hikayat Indera Bangsawan merupakan karya sastra yang ditulis oleh Muhammad Bakir dalam bentuk prosa berbahasa Melayu dengan tulisan Arab-Jawi pada 4 September 1894. Hikayat Indera Bangsawan adalah sebuah cerita petualangan keberanian dan kegagahan Indra Bangsawan dalam menyelamatkan Ratna Sari Bulan dari kejahatan seorang raksasa bernama Buraksa. lndra Bangsawan adalah putra Maharaja Indra Bungsu, penguasa Kerajaan Kobat Syahri. Indra Bangsawan mempunyai saudara kembar bernama Syahperi. Syahperi lahir bersama anak panah, sedangkan Indra bangsawan lahir bersama sebilah pedang. Kedua bersaudara ini dibekali ilmu mengaji memiliki kesaktian yang sama hebatnya. Pada suatu malam, Maha raja Indra Bungsu bermimpi melihat putri-putri cantik yang sedang memainkan alat musik buluh perindu. Selanjutnya, Maharaja Indra Bungsu memerintahkan kedua putranya untuk mencari apa yang dilihatnya dalam mimpinya itu. Indra Bangsawan dan Syahperi berada di sebuah hutan mereka terpisah akibat hujan badai. Syahperi sampai di negeri bernama Anta Berahi dan berhasil menyelamatkan Putri Ratna Sair, akhirnya menikah. Indra Bangsawan sangat sedih ditinggalkan oleh kakaknya di dalam hutan. Sampai di sebuah gua dia bertemu dengan nenek raksasa dan mengangkatnya sebagai cucunya. Sang nenek raksasa bercerita bahwa negeri tempat tinggalnya bernama Anta Beranta, di wilayah kekuasaan Negeri Anta Pramana. Raja negeri tersebut, Maharaja Kibar, takluk kepada Buraksa dan harus membayar upeti berupa anak-anaknya. Jika Maharaja Kibar tidak memberikan anaknya sebagai santapan Buraksa, dan negerinya akan dihancurkan. Maharaja Kibar mempunyai seorang putri yang benama Tuan putri Ratna Sari Bulan. Setiap malam sang putri menangis memikirkan dirinya yang akan dijadikan persembahan kepada Buraksa. Sampai akhirnya mata Tuan putri Ratna Sari Bulan sakit. Baginda Raja lalu memerintahkan kesembilan anak raja untuk rnencari susu harimau yang dapat menyembuhkan penyakit putrinya, namun yang berhasil menemukannya adalah Indra Bangsawan. Setelah tuan putri sernbuh, tibalah saat dirinya menjadi persembahan kepada Buraksa. Akan tetapi, dengan kesaktiannya, Indra Bangsawan dapat menyelamatkannya dan berhasil membunuh Buraksa. Sebagai bukti, Indra Bangsawan membawa mata, hidung, dan telinga Buraksa ke hadapan Maharaja Kibar. Sesuai dengan janjinya, Maharaja Kibar menikahkan Ratna Sari Bulan dengan lndra Bangsawan yang telah kembali ke wujud semula. Selain itu, Indra Bangsawan pun bertemu dengan saudara kembarnya, Syahperi.
unsur intrinsik dalam hikayat indera bangsawan